Proses pemulihan dari cedera ligamen, patah tulang, atau cedera saraf seringkali menjadi perjalanan yang sangat menyakitkan dan membosankan. Namun, yang jauh lebih berat dari rasa sakit fisik adalah beban pikiran yang menghantui setiap malam. Ketakutan bahwa mereka tidak akan pernah bisa kembali ke performa terbaiknya seringkali memicu munculnya gejala Depresi pada para atlet. Mereka kehilangan identitas diri; dari seorang bintang yang dipuja banyak orang menjadi seseorang yang kesulitan bahkan hanya untuk berjalan. Di Jawa Timur, yang dikenal sebagai provinsi dengan kompetisi olahraga yang sangat keras, tekanan untuk segera sembuh dan kembali bertanding seringkali justru memperburuk kondisi mental sang atlet yang sedang dalam masa pemulihan.
Kisah perjuangan untuk kembali bangkit dari Depresi adalah narasi kemanusiaan yang sangat kuat. Seorang atlet harus belajar berjalan kembali, belajar mempercayai tubuhnya sendiri yang pernah mengkhianatinya, dan melawan rasa trauma setiap kali melakukan gerakan yang dulu memicu cedera. Dukungan dari keluarga, pelatih, dan rekan setim menjadi faktor penentu apakah seorang atlet akan menyerah pada keadaan atau memilih untuk berjuang sekali lagi. Banyak atlet Jatim yang akhirnya berhasil bangkit dan justru tampil lebih tangguh dari sebelumnya, namun tidak sedikit pula yang harus berjuang dalam kesunyian tanpa bantuan profesional yang memadai. Penanganan aspek psikologis pasca Cedera Parah seharusnya mendapatkan porsi yang sama besarnya dengan penanganan medis bedah maupun fisioterapi.
Ketidakpastian masa depan finansial bagi atlet yang cedera juga menjadi pemicu stres yang signifikan. Tanpa adanya jaminan perlindungan karier yang jelas, seorang atlet yang tidak bisa bertanding akan kehilangan sumber pendapatannya. Hal ini menciptakan lingkaran setan yang memperparah kondisi mental mereka. Oleh karena itu, penting bagi otoritas olahraga di daerah untuk menyediakan skema perlindungan atau asuransi yang komprehensif bagi para atletnya. Bangkit dari keterpurukan membutuhkan ketenangan pikiran, dan ketenangan itu hanya bisa didapat jika kebutuhan dasar mereka tetap terjamin selama masa sulit. Kita perlu lebih menghargai proses rehabilitasi sebagai bagian dari perjuangan atlet, bukan hanya menuntut hasil instan di lapangan.
