Dalam kancah olahraga prestasi, mesin penggerak utama seorang atlet bukan hanya otot yang kuat, melainkan apa yang mereka konsumsi setiap harinya. Jawa Timur, sebagai salah satu barometer olahraga nasional, telah menerapkan pendekatan yang sangat saintifik melalui konsep periodisasi nutrisi. Strategi ini tidak lagi menyamakan menu makanan sepanjang tahun, melainkan menyesuaikan asupan zat gizi dengan fase latihan yang sedang dijalani oleh para atlet. Pendekatan ini menjadi rahasia di balik daya tahan dan kekuatan ledak yang konsisten dari para punggawa olahraga di wilayah tersebut.
Penerapan nutrisi yang terencana dengan baik dimulai dari pemahaman bahwa kebutuhan tubuh saat fase persiapan umum sangat berbeda dengan saat mendekati hari pertandingan. Pada fase persiapan awal, fokus utama adalah pembangunan massa otot dan pemulihan dari volume latihan yang tinggi. Di sinilah peran ahli gizi KONI Jatim masuk untuk memastikan bahwa asupan protein dan mikronutrien berada pada level optimal untuk regenerasi jaringan. Tanpa pengaturan yang presisi, latihan keras hanya akan berujung pada kerusakan otot tanpa adanya pertumbuhan yang berarti.
Memasuki fase pra-kompetisi, intensitas latihan biasanya meningkat sementara volumenya menurun. Pada tahap ini, strategi asupan makro mengalami pergeseran. Karbohidrat menjadi pemain kunci sebagai bahan bakar utama sistem saraf pusat dan kontraksi otot cepat. Tim medis dan gizi mulai menghitung rasio glikemik dari setiap makanan yang disajikan untuk memastikan energi tersedia tepat saat dibutuhkan. Inovasi dalam mengatur asupan makro ini memungkinkan atlet untuk tetap memiliki tenaga ekstra di akhir sesi latihan yang paling melelahkan sekalipun, tanpa merasa berat secara pencernaan.
Salah satu tantangan terbesar dalam membina para atlet elite adalah menjaga komposisi tubuh agar tetap berada di ambang batas ideal cabang olahraganya. Atlet lari tentu memiliki kebutuhan profil lemak dan otot yang berbeda dengan atlet angkat besi. Melalui data antropometri yang diperbarui secara berkala, nutrisi diatur secara individual (personalized nutrition). Tidak ada lagi skema “satu menu untuk semua”. Setiap piring makan adalah hasil dari perhitungan kalori yang ketat namun tetap memperhatikan selera nusantara agar psikologis atlet tetap terjaga dan tidak merasa jenuh dengan makanan yang hambar.
